16 Aug 2020

Kemenristek/BRIN Kenalkan Lima Ventilator Inovasi Indonesia

JAKARTA – Konsorsium Riset dan Inovasi Covid 19 Kementerian Riset Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) saat ini sudah menghasilkan lima jenis ventilator untuk membantu pasien Covid 19. Ventilator tersebut sudah mendapatkan ijin edar alat kesehatan dari Kementerian Kesehatan Repubik Indonesia untuk dipergunakan di rumah sakit.

Ali Gufron, selaku Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid 19 Kementerian Riset Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN berharap produk ventilator ini bisa diterima oleh tenaga kesehatan dan rumah sakit di Indonesia. Ini akan mengurangi import alat kesehatan dan menghargai karya anak bangsa sendiri. Dengan cara demikian, Indonesia akan bisa lebih mandiri secara ekonomi dan menjadi negara maju karena mampu menciptakan kmandirian ekonomi dengan berbasis inovasi.

“Kita ingin ekosistem penelitian inovasi ke depan seperti ini terus. Konsorsium semua komponen bisa bekerjasama menghasilkan karya yang dibutuhkan oleh bangsa. Dengan adanya kasua Covid 19, ternyata mampu menyatukan kita semua, terutama triple helix. Ada penliti, inovator, industri, perguruan tinggi dan regulator yakni pemerintah,’’ tegasnya.

Plt. Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir menyambut baik dengan keluarnya ijin edar lima ventilator tersebut. Selanjutnya Kemenkes akan membeli sedikitnya seribu ventilator. Bahkan, Abdul Kadir menyampaikan bahwa Kemenkes akan membeli sebanyak banyaknya ventilator karya anak bangsa ini untuk digunakan oleh seluruh rumah sakit di Indonesia.

“Kami mendukung seratus persen produk ventilator ini. Kami akan membeli sebanyak banyaknya produk ventilator dalam  negeri. Minimal saat ini kami akan membeli seribu ventilator untuk kita bagikan ke rumah sakit,’’ jelasnya dalam Sosialisasi Lima Ventilator Inovasi Indonesia pada Sabtu (15/8/2020) melalui webinar Zoom. Kelima ventilator ini dikenalkan kepada komunitas dokter-dokter, rumah sakit, dan pemangku kepentingan lain.

Abdul Kadir menginginkan, ventilator karya anak bangsa berfungsi dengan baik sebagaimana ventilator dari luar negeri yang saat ini banyak dipakai di rumah sakit. Ventilator harus mampu membantu pasien sembuh dan dioperasikan oleh  tenaga ahli di bidangnya. Untuk itu diperlukan pelatihan dan sosialisasi ventilator  ke semua tenaga ahli yang mengoperasikan seperti tenaga ahli ICU, anastasy dan lainnya.

“Bahkan kami dari Kemenkes sangat mendukung agar para peneliti dan inovator menghasilkan alat kesehatan yang lain, selain ventilator,’’ harapnya.

Sementara itu, Kepala Lembaga  Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (LKPP) Roni Dwi Susanto menyambut baik adanya diskusi tersebut. Dengan dimasukkannya produk ventilator tersebut ke e-catalog LKPP, pihaknya berharap agar tenaga kesehatan bisa bekerja nyaman dan aman dan tidak berurusan lagi dengan penegak hukum pada saat pengadaan ventilator dan alat kesehatan lainnya.

Lima ventilator tersebut adalah BPPT3S-LEN, GERLIP HFNC-01, Vent-I Origin, COVENT-20, dan DHARCOV-23S.

BPPT3S-LEN merupakan ventilator berbasis Ambu Bag dan Cam dikembangkan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama PT LEN. BPPT3S-LEN telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI ADK 20403020870 dan saat ini PT LEN telah diproduksi 100-unit ventilator.

Ventilator GERLIP HFNC-01 dikembangkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan PT Gerlink Utama Mandiri. Penggunaan jenis ventilator HFNC (High Flow Nasal Cannula) untuk mencegah pasien tidak sampai gagal nafas dan tidak harus diintubasi menggunakan ventilator invasif dengan cara memberikan terapi oksigen beraliran tinggi. Sampai saat ini sudah diproduksi 5 unit. GERLIP HFNC-01 telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI ADK 20403020951.

Vent-I Origin merupakan model ventilator Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) dikembangkan Yayasan Pembina Masjid Salman ITB bersama Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Vent-I telah mengantong Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI ADK 20403020696. Hingga hari ini 790-unit Vent-I produksi pertama yang telah didistribusikan kepada RS yang membutuhkan.

Covent-20 merupakan ventilator hasil kolaborasi dari para peneliti di Fakultas Teknik UI (FTUI) dan Fakultas Kedokteran UI (FKUI), Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), RSUP Persahabatan Jakarta, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Jakarta II Jurusan Teknik Elektromedik. COVENT-20 mudah dibawa dan dapat digunakan dalam keadaan darurat. COVENT-20 memiliki dua mode operasi yaitu mode CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) dan CMV (Continuous Mandatory Ventilation).

Mode Ventilasi CPAP dioperasikan ketika kondisi pasien masih sadar untuk membantu oksigenasi ke paru-paru pasien, sedangkan Mode CMV dioperasikan ketika pasien tidak sadar atau mengalami kesulitan mengatur pernafasannya untuk mengambil alih fungsi pernafasan pasien. Kedua mode tersebut dapat digunakan pada saat pasien berada di rumah maupun dalam perjalanan (di mobil ambulans), namun tidak digunakan di ruang isolasi mandiri.

Covent-20 telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES AKD 20403021003 dan telah diproduksi sekitar 300-unit oleh beberapa mitra Produsen Alat Kesehatan (Alkes) diantaranya PT Enesers Mitra Berkah, PT Graha Teknomedika, dan PT PINDAD dan dikalibrasi oleh beberapa mitra Perusahaan Kalibrasi Alkes. Saat ini telah 300 Covent-20 yang didistribusikan.

Ventilator Emergency CMV dan CPAP berbasis pneumatic DHARCOV 23S. Ventilator ini dikembangkan oleh BPPT bekerja sama dengan PT Dharma Precission Tools dan telah mengantongi Nomor Izin Edar Alat Kesehatan KEMENKES RI AKD 20403020892. Dharcov-23S telah memasuki fase produksi masal. Total unit dalam batch pertama yang akan diproduksi adalah sebanyak 200-unit ventilator, sampai tanggal 19 Juni 2020 telah selesai diproduksi dan terkalibrasi sebanyak 100 unit.

Acara sosialisasi 5 ventilator ini merupakan kerjasama Kemenristek/BRIN dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan Perhimpunan Dokter Intensive Care Indonesia (PERDICI). Hadir memberi sambutan ini yaitu Prof. Dr. Ali Ghufron, Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19; Dr. Mego Pinandito, Sekretaris Kemenristek/BRIN; Prof. dr. Abdul Kadir, Ph.D. Sp.THT-KL(K) M.A.R.S, Plt. Dirjen YANKES Kementerian Kesehatan; serta Dr. Ir. Roni Dwi Susanto., M.Si, Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).

Acara sosialisasi ini menghadirkan pembicara Dr. Ike Sri Rejeki, dr.SpAn-KIC, KMN, M.Kes, Kepala Departemen Anestesiologi & Terapi Intensif – Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/RS Hasan Sadikin; dan dr. Rudyanto Sedono, Sp.An-KIC, Divisi Intensive Care Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI-RSCM. Serta pembahas yaitu Prof. Dr. dr. Syafri Kamsul Arif, SpAn, KIC, KAKV, Ketua PERDATIN; dan dr. Bambang Pujo Semedi, SpAn, KIC, Ketua PERDICI.