04 Sep 2020

Startup Binaan Kemenristek/BRIN

Jakarta – Kunjungan ke lokasi tenant binaan Kemenristek/BRIN merupakan bagian pertanggungjawaban kepada masyarakat akan hasil Startup Inovasi Indonesia. Ada banyak startup yang dihasilkan baik yang pra maupun yang sudah skala komersialisasi diantaranya startup yang sudah mulai produksi sampai yang sudah ada izin edar.

Scooby Tea Kombucha merupakan pra startup yang menjadi peserta Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dari Perguruan Tinggi (CPPBT-PT) pada 2019. Scoby Tea Kombucha merupakan produk inovasi minuman hasil fermentasi berbahan baku teh bunga dan gula yang difermentasi menggunakan bakteri dan jamur probiotik. SCOBY merupakan singkatan dari “Symbiotic Culture Of Bacteria and Yeasts” yang berarti sekumpulan bakteri dan ragi hidup bersama secara simbiotik. Sementara Kombucha merupakan produk fermentasi yang merupakan hasil dari aktivitas mikrobiologi dan biokimia.

Ragi memfermentasi nutrisi dari cairan dimana dia hidup, dan kemudian bakteri mengubahnya menjadi asam yang menyehatkan bagi tubuh. SCOBY bertugas memfermentasi gula pada teh menjadi Kombucha. Proses difermentasi dengan metode tertentu sehingga tidak menghasilakan alkohol.

Pada tahun 2019 Scooby Tea Kombucha rutin mengikuti pameran baik di kampus, atau mall namun di masa pandemi ini Annisa memfokuskan untuk melakukan penjualan melalui Instagram ataupun pameran produk online menggunakan zoom. Variannya ada 3 yaitu lavender, rose, dan butterfly pea. Kemasan botol plastik 250ml dibandrol mulai dari Rp. 25.000 dan botol kaca 350ml dibandrol mulai dari Rp. 35.000.

Omzet produk per bulan yang dihasilkan dalam setahun ini sangat fluktuatif. Omzet produk Kombucha masih di bawah 50 juta, namun setelah menerima dana hibah dari Kemenristek/BRIN yang sebelumnya bernama Kemenristekdikti kami mulai melakukan budidaya bunga telang. Kami berharap bisa menjadi peserta Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dari Perguruan Tinggi (CPPBT-PT) sehingga bisa melakukan budidaya bunga mawar dan lavender. Jika semua bahan baku bunga sudah kami produksi sendiri maka itu akan mengurangi cost dalam pembuatan minuman ini.

Kemudian ada lagi Alcoloid atau Alcohol Identification Device yang menjadi peserta Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi dari Perguruan Tinggi (CPPBT-PT) pada 2019. Alcoloid  ini dapat mendeteksi jumlah alkohol yang dikonsumsi oleh seseorang, apakah orang tersebut termasuk kategori sadar, setengah sadar ataupun sudah terpengaruh alkohol yang sangat berat.

Alcoloid sendiri adalah produk inovasi alat pendeteksi alkohol yang terintegrasi dengan internet pertama di Indonesia. Di dunia sudah banyak alat pendeteksi alkohol namun belum ada yang bisa terintegrasi dengan internet. Produk inovasi yang dibuat oleh Telkom University adalah salah satu yang tercanggih di dunia, karena alat ini telah terintegrasi dengan sistem IoT (Internet of Think).

Alcoloid ini dapat bekerja dengan dua sistem yakni offline ataupun online. Untuk sistem kerja online, data yang didapat dari seseorang yang dicek kadar alkoholnya akan masuk kedalam laman alcoloid.telkomuniversity.ac.id sekaligus akan terkirim ke smartphone melalui aplikasi telegram. Setiap penggunaan akan tersimpan dan kita pun bisa melihat rekam jejak penggunaannya. Sedangkan untuk mode offline hanya akan ditampilkan di layar Alcoloid tersebut, layaknya thermo gun.

Cara kerja alat ini adalah dengan hembusan nafas. Pengguna akan memasangkan alat pada mulut target, lalu target tersebut harus menghembuskan nafas selama 5 detik dan sensor MQ3 akan memproses kadar alkohol yang dikonsumsi target dengan jangka watktu maksimal 8 jam terakhir. Dalam hitungan detik hasilnya akan muncul di layar Alcoloid, serta dikirim ke server dan smartphone.  Alcoloid  dapat mendeteksi jumlah alkohol yang dikonsumsi oleh seseorang, apakah orang tersebut termasuk kategori sadar, setengah sadar ataupun sudah terpengaruh alkohol yang sangat berat.

Pada tahun 2019 Alcoloid sudah bekerjasama dengan PT. KAI, dengan mengaplikasikannya kepada masinis, alasannya karena PT. KAI memiliki aturan bahwa 2 jam sebelum keberangkatan kereta, maka masinisnya harus dilakukan test kesehatan terlebih dahulu. Alcoloid pun sudah digunakan oleh POLDA JABAR untuk kegiatan razia kendaraaan, karena masih banyak pengendara yang mengemudi dalam keadaan mabuk.

Total sudah 15 alat Alcoloid sudah diciptakan termasuk yang diberikan kepada PT. KAI dan POLDA JABAR namun sampai saat ini pihak Telkom University belum melakukan kegiatan komersialisasi produk karena masih ada kompenen yang disempurnakan. Berkat pembinaan dan bantuan dari Kemenristek/BRIN yang sebelumnya bernama Kemenristekdikti telah mendapatkan hak merk, hak cipta dan hak paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. Sementara sertifikat SNI masih dalam proses dari Badan Standardisasi Nasional. Dengan dana hibah dari Kemenristek/BRIN maka alcoloid akan segera disempurnakan dan didaftarkan untuk menjadi peserta ke dalam PPBT.

Selanjutnya ada Biskuit BonnisA dengan memanfaatkan sejumlah bahan pangan lokal untuk membuat biskuit prebiotik. Bahan yang digunakan adalah bonggol pisang, ubi jalar, dan kedelai hitam. Bahan-bahan tersebut kemudian diformulasikan sedemikan rupa hingga mengandung senyawa Prebiotik.

Probiotik adalah senyawa yang mampu memperbanyak bakteri probiotik di dalam usus. BonnisA juga mengandung isoflavon yang dapat berperan sebagai antioksidan bagi tubuh. Aman untuk penderita diabetes karena sifatnya gluten-free.

Biskuit BonnisA mengandung karbodidrat, protein, lemak nabati dan serat pangan untuk menurunkan penyerapan kolesterol.

Tim BonnisA sudah melakukan riset selama 5 tahun. Dari hasil pengujian BonnisA mampu menurunkan kolesterol hingga 54,37%. dan menurunkan gula darah hingga 46,35%. Walau tanpa bahan pengawet, biskuit bisa bertahan 1,5 tahun dan aman dikonsumsi oleh segala lapisan usia di atas 2 tahun.

Pada tahun 2019 Biskuit BonnisA sudah bekerjasama dengan dengan para petani pisang, ubi jalar, dan kedelai hitam. Selain bisa menjamin kualitas bahan baku, Tim BonnisA pun membantu meningkatkan ekonomi para petani.

Biskuit BonnisA sudah dan tersertifikasi halal dan memiliki hak paten untuk formulanya. Sementara untuk hak merk masih dalam proses. Biskuit halal dan sehat tersebut hanya dibanderol dengan harga Rp10.000 untuk ukuran 25gram, dan Rp. 40.000 untuk ukuran 125 gram.

Omzet produk ini masih fluktuatif. Omzetnya masih di bawah 50 juta, namun setelah menerima dana hibah dari Kemenristek/BRIN yang sebelumnya bernama Kemenristekdikti kami bisa memiliki rumah produksi sendiri, dan membeli alat alat produksi baru.

Jika dalam kondisi normal dalam sehari Tim BonnisA bisa membuat hingga 80 pax ukuran 25 gram dan selalu habis terjual bahkan hingga ke Kalimantan. Namun sejak pandemi covid produksi Biskuit BonnisA dibatasi. Tim hanya akan produksi jika ada permintaan saja. Hal ini dikarenakan bahan baku dari petani berkurang, dan jumlah pekerja di rumah produksi dikurangi demi terwujudnya phisical distancing..

Kami berharap bisa menjadi peserta binaan Perusaan Pemula Berbasis Teknologi sehingga bisa membuat riset untuk varian baru Biskuit BonnisA tinggi protein untuk penderita Stunting. Dana tersebut juga bisa digunakan membeli alat baru sehingga dalam sehari Tim BonnisA bisa memproduksi hingga 200 pax ukuran 25 gram.