14 Oct 2020

Program Desa Inovasi Berketahanan Sosial di Purwakarta

PURWAKARTA– Sumber daya manusia, merupakan modal awal pembangunan, demikian halnya dengan pembangunan di desa. Menyadari betul akan hal ini, Kementerian Riset dan Teknologi/ Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) bekerjasama dengan Kementerian Sosial pada tahun ini meluncurkan program Desa Inovasi Berketahanan Sosial. Secara umum program ini dimaksudkan untuk meningkatkankapasitas masyarakat di sebuah desa untuk meningkatkan kesejahteraan dan membangun ketahanan sosial dengan dorongan aplikasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan.

Rancangan program yang dilaksanakan pada tahun 2020 ini adalah mengidentifikasi kebutuhan teknologi yang disesuaikan dengan potensi maupun permasalahan di desa yang dijadikan lokus kegiatan. Total sudah ada 3 desa yang telah diidentifikasi di Bulan September dan Oktober 2020, yakni Desa Nagrak Utara di Sukabumi pada 16 September, Desa Tlogoguwo Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, pada Kamis 24 September serta Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta pada Senin 5 Oktober 2020.

Kunjungan pertama di Sukabumi fokus mengidentifikasi potensi desa sebagai penghasil Kopi Sinagar, lain hal nya di Desa Tlogoguwo. Desa ini memiliki banyak potensi seperti ettawa, kopi, gula aren, madu lebah, cengkeh, durian, vanili dan potensi wisata. Sehingga membuat tim Kemenristek dan kemensos melakukan upaya yang lebih untuk menentukan produk unggulan yang akan dikembangkan teknologinya. Semua potensi tersebut dikunjungi langsung oleh tim dari kedua kementerian dan bertemu dengan seluruh pemangku kepentingan di desa, mulai dari perangkat desa, kelompok tani, dinas sosial dan masyarakat.

Serupa dengan Desa Tlogoguo, Desa Sindangpanon memiliki banyak potensi dan sumber daya. “Kami melihat desa ini warganya cukup kreatif memanfaatkan potensi yang ada, dibuktikan dengan banyaknya jenis usaha yang digeluti penduduk desa”. Keadaan ini menurut Wihatmoko Waskitoaji, Kasubdit Pengembangan Sistem dan Jaringan Inovasi Kemenristek/BRIN, membuat dirinya dan tim harus lebih jeli menentukan potensi dan permasalahan yang akan diselesaikan melalui aplikasi teknologi yang akan sekaligus meningkatkan kualitas dan kapasitas penduduk Desa Sindangpanon. Untuk saat ini beliau melihat ada kebutuhan untuk mesin pengukur tanin teh, karena Desa Sindangpanon ini telah terkenal hasil tehnya sejak jaman Belanda dan hingga saat ini karakteristik khas dari teh nya masih dicari pabrikan teh besar. Ada potensi lainnya yang sangat menjanjikan yakni tanaman pangan alternatif yang akan dikembangkan dalam waktu dekat ini yang telah mendapat dukungan investor.

Anggota tim dari Kemenristek/ BRIN Eko Kurniawan, Kepala Seksi Kebijakan Inovasi, untuk kasus Desa Sindangpanon, mengusulkan strategi marketing yang tidak biasa untuk mengembangakan teh industri rumah tangga yakni dengan menciptakan niche market (pasar spesifik). Hal tersebut dikarenakan akan sulit jika industri skala rumah tangga ini harus bersaing dengan industri besar. Adapun strategi tersebut dapat berupa mengangkat keunikan dari teh ini sendiri, mengundang tester terkenal untuk mereviu produksi teh tradisional, serta memperbanyak event di Desa Sindangpanon yang meningkatkan kunjungan. “Kita harus jeli menemukan apa yang unik dari teh ini, entah itu dari awal tanamannya, proses produksinya, maupun cara penyajiannya”. Demikian diungkapkan anggota tim Kemenristek/BRIN ini disela kunjungannya.

Apa yang telah diidentifikasi oleh kemenristek/ BRIN sejalan dengan pandangan dari Kepala Desa Sindangpanon, Denden Pranayuda. “ Teh kami sudah dijadikan campuran oleh beberapa industri teh besar sejak lama, hanya saja kami berharap nama Desa kami muncul, oleh sebab itu kami mendukung pengembangan industri teh rumah tangga. Namun demikian kami sadar betul bahwa teh kami sangat lemah jika harus bersaing dengan industri besar.” Terkait dengan alat pengukur tannin teh, pihaknya menjanjikan bahwa alat tersebut akan sangat bermanfaat dan akan mengelolanya di bawah Badan Usaha Milik Desa. Keuntungan yang diperoleh akan digunakan untuk lebih meningkatkan pembangunan. Denden menambahkan bahwa pihaknya juga saat ini sedang mengurus perizinan lahan untuk mengembangkan tanaman alternatif yang tentu akan memerlukan dukungan.

Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Sosial Santi, menyampaikan bahwa sejak awal merancang program Kerjasama antara Kementerian Sosial dan Kemenristek/ BRIN pihaknya telah menentukan target-target aplikasi teknologi berdasarkan identifikasi para penyuluh sosial yang tersebar di seluruh Indonesia. Pihaknya mempercayakan sepenuhnya mengenai teknologi yang akan diaplikasikan kepada Tim dari Kemenristek/BRIN dan akan mendukung pengembangan sosial kelembagaan terkait dengan penerapan teknologi tersebut.

Pada umumnya, seluruh lapisan masyarakat di Desa Sindangpanon, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta sangat menghargai ide dan masukan yang diberikan oleh tim dari kedua kementerian. Mereka berharap banyak agar program ini dapat segera direalisasikan sehingga cita-cita mereka untuk dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan semakin cepat terwujud.