16 Oct 2020

Klaster Inovasi, Dulu Tandus Kini Hasilkan 31 Ton Madu

Lombok – Kampung Lebah di Lombok Utara. Apa istimewanya hingga sejumlah pejabat dari daerah dan pusat mengunjungi Kampung Lebah yang terletak di Dusun Lendang Gagak, Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara. Lima tahun lalu, lokasi dibangunnya Kampung Lebah ini merupakan lahan yang kering dan tandus. Namun kini lokasi ini berubah drastis dan menjadi banyak perhatian karena menjadi sentra budidaya Madu Trigona yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Senin, 13 Oktober 2020 sejumlah pejabat mengunjungi lokasi istimewa ini. Pelaksana Tugas Bupati Lombok Utara Sarifudin mendampingi tim dari kedua kementerian. Kemenristek/BRIN diwakili oleh Staf Khusus Danang Rizki Ginanjar, Kasubdit Kemitraan Strategis dan Wahana Inovasi Eka Gandara, Kasie Wahana Inovasi Nuhansyah Harahap, Kasubag Pelayanan Informasi Juliadri dan rombongan lainnya. Sementara dari Kemendes diwakili oleh Staf Khusus Dodik Pranata Wijaya.

Kampung lebah ini merupakan buah dari pendampingan Program Klaster Inovasi Kemenristek/BRIN selama tiga tahun terakhir. Dengan pendampingan ini, produksi madu trigona mengalami peningkatan berlipat dan masyarakat semakin sejahtera. Populasi lebah pada 2018 mencapai 14 ribu koloni dan menghasilkan 21 ton dalam satu tahun. Kemudian di 2019 populasi lebah mengalami peningkatan menjadi 18 ribu koloni dan menghasilkan 27 ton madu. Dan tahun 2020 jumlah lebah mengalami peningkatan sebesar 23 ribu koloni dan memproduksi 34 ton madu.
“Berkat pendampingan Klaster Inovasi, produktivitas madu meningkat karena kita sangat terbantu dari sisi cara budidaya, penelitian pengembangan, teknologi dan juga pemasarannya,’’ jelas Sukri, pengelola Kampung Lebah yang akrab dipanggil Bang Slesh Apis.

Setibanya rombongan sampai di Kampung Lebah, langsung disambut oleh Sukri. Jebolan Universitas Mataram yang tahun 2019 mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo sebagai pemuda penggerak ini langsung mengajak keliling rombongan melihat semua bagian Kampung Lebah. Tidak ketinggalan rombongan diajak melihat ratusan stup rumah lebah yang ditata rapi di bangunan panggung ukuran satu kali dua meter. Dengan tempat selebar itu mampu menampung hingga seratus stup rumah lebah.

Rombongan juga diajak memanen madu langsung dari stup rumah lebah yang dihuni ratusan lebah trigona atau masyarakat mengenalnya dengan lebah klanceng. Untuk memanen madu klanceng ini tidak memerlukan persiapan khusus seperti memanen madu bersengat. Lebah ini menyerupai semut terbang dan tidak memiliki sengatan. Mengambilnyapun cukup menggunakan sendok atau alat penyedot otomatis dan bisa langsung dinikmati madunya.
Alat penyedot otomatis ini adalah ciptaan dari Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Mataram yang selama ini mendampingi para peternak lebah trigona. Alatnya sederhana, digerakkan dinamo dan selang penyedot langsung ditancepkan ke kantong kantong madu. Dengan alat ini, memanen lebah tidak harus merusak rumah lebah dan reproduksinya sudah terbukti lebih banyak.

‘’Kita ajarkan ke petani madu bagaimana caranya membuat kotak stup, mencari koloni di hutan hingga bagaimana memindahkan koloni ke stup. Kita juga mengedukasi masyarakat untuk menanam berbagai tanaman pakan lebah disekitar lokasi seperti bunga matahari, pohon belimbing dan lainnya. Alhamdulillah pada masa pandemi covid ini pemasaran meningkat karena imunitas masyarakat juga membutuhkan madu, pasar kita ada di Jakarta hingga luar negeri,’’ jelasnya.

Dr. Ir. Irwan, M.Si, peneliti di Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Mataram yang selama ini mendampingi peternah lebah mengatakan bahwa potensi lebah di Lombok Utara ini sangat besar. Ini dikarenakan iklimnya sangat menunjang untuk aktivitas bagi lebah, variasi tanamannya banyak sebagai sumber makan lebah, dan masyarakat sudah cukup lama membudidayakan lebah sehingga ketika disentuh dengan teknologi inovasi terkait perlebahan mereka lebih mudah memahaminya.

Irwan menyampaikan bahwa memelihara lebah trigona ini cukup mudah. Kelebihan lebah trigona diantaranya tidak punya sengat sehingga aman dipelihara, siapapun bisa memelihara, baik orang tua, anak anak, dan ibu ibu juga bisa. Budidaya lebah ini tidak membutuhkan area yang karena hanya dengan dua kali satu meter sudah mampu menampung seratus kotak koloni. Lebah trigona juga mudah untuk beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan.

“Keuntunganya juga snagat banyak. Untuk sekali panen, peternak sudah bisa menghasilkan madu, polen dan propolis. Dan enaknya lagi sudah bisa dipanen dua bulan sekali,’’ jelasnya.

Sementara itu Kasubdit Kemitraan Strategis dan Wahana Inovasi Kemenristek/BRIN Eka Gandara menyampaikan kalau keberhasilan budidaya lebah ini salah satunya adalah program Klaster Inovasi dari Kemenristek/ BRIN. Program Klaster Inovasi itu adalah sebuah instrumen dimana Kemenristek ingin memperbaiki ekosistem di daerah dengan mempertemukan stakeholder baik itu dari pemerintah daerah, masyarakat, industri, perguruan tinggi dan komunitas. Prinsipnya adalah semua pihak bersatu padu bagaimana meningkatkan nilai tambah dari pada produk unggulan di daerah ini.

“Ini sudah berhasil dan target kita selanjutnya bagaimana mereplikasi program tersebut ke daerah lain agar berhasil juga. Kita terapkan teknologi hasil rise dan inovasi untuk memastikan adanya nilai tambah pada produk unggulan daerah agar ada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,’’ harapnya. (juliadri)