10 Dec 2020

Kemenristek Mendorong Potensi Herbal Untuk Penanggulangan Covid-19

KEMENTERIAN Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) melalui Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 terus mendukung publikasi dan promosi kegiatan difusi produk inovasi penanganan covid-19 pada masa darurat bencana.

Bekerja sama dengan peneliti dan pelaku usaha, Kemenristek mendorong pengembangan berbagai riset dan inovasi untuk mencegah dan mengobati pasien covid-19. Beberapa bidang yang dikembangkan antara lain obat, vaksin, alat kesehatan, hingga suplemen makanan dan minuman.

Salah satunya produk perusahaan herbal dari Salatiga, Synthesa Herba, yakni suplemen minuman Curcuma Pro dan Bio Meta. Minuman suplemen berbahan herbal ini banyak digunakan pasien covid-19 dan tenaga medis.
Menurut inventor yang juga pengusaha ramuan herbal Synthesa Herba, Ahmad Budiharjo, ramuan minumannya dibuat sejak 1987 dan mulai banyak digunakan pada 2004 saat wabah flu burung menerpa. Saat itu, ramuannya digunakan peternak ayam untuk menyelamatkan ayam dari virus flu burung. “Pikir saya, kalau hewan cocok, berarti cocok juga buat manusia. Lalu banyak uji coba dan terbukti badan makin fit dan sehat,” jelas dia di di Salatiga saat menerima kunjungan Kemenristek/BRIN, Kamis (3/12).

Adapun awal mula produknya digunakan untuk penanggulangan pasien covid-19 saat rekannya mendatangkan 30 tenaga kerja dari luar negeri yang terpapar covid-19. Setelah meminum produknya, pasien berangsur sembuh. Dari pengalaman itu, banyak dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memesan produk itu serta dibagikan ke rumah sakit dan puskesmas.

Ada 127 rumah sakit dan 560 puskesmas yang tenaga medisnya sudah meminum ramuan itu untuk pengobatan virus dan menjaga stamina tubuh. “Dari pengalaman itu, secara empiris sudah banyak tenaga medis dan pasien covid yang membuktikan khasiat minuman Curcuma Pro dan Bio Meta, namun secara klinis butuh penelitian lebih lanjut,” jelasnya. Bahan dari minuman Curcuma Plus terdiri dari temulawak, jahe, kunyit, coconut oil, madu hutan, dan gula batu. Semua bahan direbus hingga mendidih dan selanjutnya dimasukkan pada galon untuk ditambahkan bahan probiotik.

Setelah itu masuk proses fermentasi hingga dua minggu. Dengan proses permentasi ini manfaat dari ramuan akan lebih maksimal. Adapun untuk membuat Bio Meta, bahan yang digunakan yakni madu hutan, kacang hijau, tempe, nanas, beras merah, beras hitam, coconut oil, dan air kelapa. Semua bahan diblender untuk difermentasi selama satu bulan. “Kini kami memproduksi 20 ribu botol per bulan. Kami kerja sama dengan petani dan pihak lain yang sudah kami ajari membuat ramuan ini dengan standar dan SOP sama sehingga menghasilkan produk yang sama,” jelasnya. Untuk uji klinis, Synthesa Herba didampingi Kemenristek/BRIN kemudian mendapatkan izin edar dari Badan Pengawan Obat dan Makanan (Badan POM).

Dalam pengembangan uji klinis, dia menggandeng peneliti Universitas Sebelas Maret, peneliti bidang pangan, dan beberapa rumah sakit serta puskesmas. Di antaranya ialah pakar pangan Prof Bambang Harianto dan dokter RSUD Depok dr Kania Retnaning Astuti SpPK.

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN Ali Ghufron Mukti menyebutkan pihaknya terus mengarahkan, mengkoordinasi, memfasilitasi, mendukung dana serta memonitor dan melakukan evaluasi untuk membantu pusat penelitian, perguruan tinggi, dan peneliti dalam menyukseskan penelitian dan inovasi. “Bahkan membantu hilirisasi dan komersialisasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya, Sabtu (5/12).

Terkait produk herbal, Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 mendorong potensi herbal untuk penanggulangan covid-19 dengan tetap mengutamakan keamanan. “Indonesia memiliki kekayaan biohayati luar biasa. Beberapa herbal kami arahkan untuk diteliti. Untuk menjamin keamanan, perlu uji klinik,” imbuhnya.

Sementara itu, pakar pangan Prof Bambang Harianto menjelaskan produk Curcuma Pro dan Bio Meta secara empiris sudah banyak yang membuktikan. Namum, ini harus dibuktikan secara ilmiah. Pihaknya terus meneliti kandungan ramuan. Setelah hasilnya keluar, ramuan akan diujicobakan kepada tenaga kesehatan dan pasien covid-19. “Untuk uji coba ke tenaga kesehatan, kami akan menggandeng RSUD Depok,” ucapnya.

Dokter di RSUD Kota Depok, dr Kania Retnaning Astuti, SpPK menyambut baik hasil penelitian sementara minuman itu. Selama menunggu vaksinasi dari pemerintah, tenaga medis membutuhkan berbagai suplemen untuk meningkatkan imun tubuh. “Semoga uji klinis ramuan ini membuktikan khasiatnya untuk meningkatkan stamina dan imun tubuh. Jika terbukti, masyarakat akan mendapatkan obat murah dan mudah,” ucapnya.