PERUSAHAAN LANJUTAN BERBASIS TEKNOLOGI

Latar Belakang

Penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dalam hal ini penciptaan produk inovasi, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Pengalaman beberapa negara maju menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kemajuan berakar pada kemampuan dan cara pandang terhadap inovasi teknologi yang dimiliki oleh suatu bangsa. Meskipun mereka mempunyai sumber daya alam yang kurang memadai, jika negara-negara tersebut mampu mengoptimalkan inovasi teknologi yang ada, maka negara tersebut akan berhasil mensejahterakan masyarakatnya. Dengan kemampuan inovasi teknologi, maka suatu bangsa dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki secara efektif dan efisien, serta pada akhirnya memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap perekonomian. Di samping itu, penguasaan iptek  dan  inovasi  memberikan peluang  dan  kekuatan untuk  bersaing  dalam  kancah perdagangan yang kompetitif. Hal ini sejalan dengan paradigma baru di era globalisasi yaitu innovation and technology-based economy, inovasi teknologi menjadi faktor yang berkontribusi penting dalam peningkatan kualitas hidup suatu bangsa.

Di era perdagangan dan pembangunan ekonomi yang akan datang, Indonesia tak mungkin lagi hanya dengan mengandalkan industri-industri konvensional. Hal ini sudah mulai dirasakan dan terbukti bahwa beberapa negara juga telah menempatkan perusahaan-perusahaan berbasis teknologi sebagai salah satu motor penggerak utama pembangunan.

Pada tahun 2017, Indonesia menjadi acuan pertumbuhan perusahaan pemula (startup) khususnya digital startup, karena tingkat pertumbuhan digital startup di Indonesia pada tahun 2016 mencapai yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara. Tumbuh dan berkembangnya industri-industri inovatif atau perusahaan pemula berbasis teknologi di Indonesia akan memberikan manfaat pada terciptanya lapangan pekerjaan, meningkatnya ekonomi lokal, menambah pemasukan pajak, menghasilkan devisa dari ekspor dan penggunaan produk lokal.

Dalam  rangka  membangun iklim  yang  kondusif  untuk  tumbuh  dan  berkembangnya perusahaan pemula berbasis teknologi, menjadi satu perusahaan yang berkelanjutan di Indonesia, maka Kementerian Riset dan Teknologi / Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) mengadakan kegiatan Perusahaan Lanjutan Berbasis Teknologi (PLBT) yang merupakan program yang telah diselenggarakan sejak tahun 2019 .

Program ini merupakan instrumen kebijakan dalam bentuk skema pendanaan kepada perusahaan pemula yang telah selesai menjalankan program inkubasi , untuk selanjutnya diberikan pendanaan lanjutan untuk  mengembangkan perusahaannya menjadi perusahaan Lanjutan yang berbasis teknologi , melalui  pendanaan oleh pemerintah serta investasi oleh pihak swasta sebagai modal kerja  dalam rangka mengembangkan bisnis perusahaan, sehingga mampu mencetak laba (profitability) , berkelanjutan (sustainability) dan berkembang (growth) di pasar domestik dan global secara kompetitif. Dukungan pemerintah melalui program pendanaan ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan jumlah PPBT yang dapat terus berlanjut dan tumbuh.

Skema pendanaan ini diberikan untuk perusahaan lanjutan yang sudah selesai menjalani inkubasi dan memiliki omset minimal rata-rata 500 juta per tahun. Pada fase ini, pengembangan bisnis perusahaan baik berupa peningkatan kapasitas produksi dan atau peningkatan omset pemasaran memerlukan penambahan modal kerja, maka modal kerja tersebut bisa didapat melalui lembaga Investor, baik berupa korporasi atau perseorangan, melalui   pinjaman   bank   atau   melalui   penggalangan   dana   masyarakat.   Sehingga perusahaan mampu  berkompetisi baik  dipasar lokal,  pasar  domestik, pasar  regional, maupun pasar global.

 

Dalam konteks pendanaan perusahaan pemula oleh Kemenristek/BRIN, perkembangan suatu perusahaan pemula, dapat dibagi menjadi empat tahap atau fase, yaitu:

Fase 1: Pra Inkubasi – CPPBT

Kegiatan: pengembangan produk

Keperluan Pendanaan: untuk membuat prototype

LuaranPrototype atau produk siap produksi

Pada fase ini perusahaan masih belum terbentuk, organisasi belum ada, produk dan pasar juga belum ada, yang ada adalah inventor yang mempunyai ide pengembangan produk atau  bisnis.  Pada  fase  ini  biasa  disebut  fase  seed,  dimana dibutuhkan wadah untuk merealisasikan ide menjadi produk yang nyata walaupun masih dalam bentuk prototype atau purwa rupa, atau bahkan sudah bisa berupa produk akhir siap produksi, dalam konteks pendanaan Kemenristek/BRIN disebut fase Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT). Kegiatan utama pada fase ini biasanya adalah pengembangan produk dan persiapan menuju komersialisasi yang dilakukan dalam wujud pra-inkubasi.

Fase 2: Inkubasi – PPBT

Kegiatan: pembentukan perusahaan, produksi, penjualan, pengurusan legal perusahaan dan legal produk, pengembangan Bisnis.

Keperluan pendanaan: pendirian perusahaan, legalitas perusahaan dan produk, fasilitas produksi skala terbatas dan biaya pemasaran & pelatihan.

Luaran: berdirinya perusahaan, diperolehnya legalitas perusahaan dan legalitas produk, hasil  produksi  yang  siap  dijual  dengan  target  omzet  tertentu,  namun  masih  dalam kategori Small Medium Enterprise – SME.

Fase startup atau fase inkubasi adalah fase lanjutan dari fase seed, dimana produk sudah ada dan siap diproduksi, perusahaan sudah terbentuk, namun karena masih pemula maka disebut Perusahaan Pemula Berbasis teknologi (PPBT). Selanjutnya dibutuhkan lembaga inkubator yang akan memberikan layanan inkubasi dalam rangka pengembangan bisnis perusahaan ke depan.

Alasan dibutuhkannya lembaga inkubator adalah karena perusahaan yang masih baru berdiri atau pemula biasanya sulit berkembang bahkan rentan akan kegagalan karena kurangnya pengetahuan akan pasar dan kompetisi. Selain itu, startup juga masih kurang dalam pengetahuan tentang produksi dan efisiensi sebagai cara untuk mengurangi biaya produksi dalam rangka memenangkan kompetisi, kurangnya pengetahuan akan akses modal, jejaring suplai bahan baku dan jejaring pemasaran. Atas beberapa keterbatasan tersebut, startup perlu diberikan layanan inkubasi oleh lembaga inkubator berupa fasilitas, mentoring oleh ahli bisnis maupun terkait produk, akses ke lembaga pendanaan, dan lain sebagainya.

Perusahaan yang sukses melewati fase inkubasi ini siap berubah wujud memasuki fase perusahaan mandiri yang berkembang pada fase selanjutnya.

Fase 3: Pasca inkubasi – PLBT

Kegiatan: pengembangan skala bisnis perusahaan, peningkatan omzet, peningkatan volume produksi, perluasan pasar.

Keperluan  pendanaan:  perluasan  fasilitas  produksi,  biaya  perluasan  pasar  berupa promosi dan akuisisi pelanggan, dan sebagainya, melalui sharing pendanaan pihak perusahaan (swasta, BUMN, perusahaan holding perguruan tinggi) atau perorangan.

Luaran:  Meningkatnya  omzet  penjualan  sehingga  masuk  ke  kelas  Medium  to  Big Company, meningkatnya TKDN, meningkatnya volume produksi, meningkatnya profitability, meningkatnya luasan cakupan pasar dan pangsa pasar (market share).

Pada fase ini perusahaan sudah selesai diinkubasi dan telah berbentuk perusahaan yang mandiri serta mampu membiayai diri  sendiri, di  titik ini  perusahaan mempunya dua pilihan, yaitu stagnan atau status quo, yang berarti perusahaan memilih diam ditempat dan harus puas dengan kondisi yang ada atau pilihan kedua yaitu berkembang, namun dibutuhkan strategi untuk mengembangkan perusahaan sehingga bisnisnya, omzet, serta volume produksinya meningkat. Apabila opsi berkembang yang dipilih, maka strategi yang umum dilakukan adalah mencari tambahan dana berupa investasi untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan di atas.

Mendapatkan dana investasi dari investor tidaklah mudah. Kecenderungan innvestor akan memperhitungkan mana yang lebih menguntungkan bila dananya diinvestasikan ke perusahaan pemula atau diinvestasikan di jalur lain. Atas dasar hal tersebut perusahaan perlu membuat Business Plan atau rencana kerja yang mampu menunjukkan prospek bisnis yang akan didapat oleh investor bila ingin menanamkan modal.

Landasan hukum dari program ini adalah:

  1.  Undang-undang nomor  11  tahun  2019  tentang  Sistem  Nasional  Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi;
  2. Peraturan Pemerintah nomor 20 tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan;
  3.  Peraturan Presiden nomor 38 tahun 2018 tentang Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045;
  4.  Peraturan Menteri Negara Riset dan Teknologi nomor 1 tahun 2012 tentang Bantuan Teknis Penelitian dan Pengembangan kepada Badan Usaha;
  5.  Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi nomor 38 tahun 2019 tentang Prioritas Riset Nasional tahun 2020-2024;
  6.  Keputusan Direktur Jenderal Penguatan Inovasi nomor 23/F/Kp/V/2017 tentang Petunjuk Teknis  Penyaluran  Bantuan  Pemerintah  di  Lingkungan Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi

Program ini bertujuan untuk:

  1. Mendorong dan meningkatkan kapasitas produksi dan kandungan lokal (TKDN);
  2.  Meningkatkan cakupan pasar serta pangsa pasar;
  3.  Meningkatkan kemampulabaan (profitability);
  4.  Meningkatkan pertumbuhan perusahaan  (growth)  serta  kemampuan bersaing (competitiveness);
  5.  Menggerakkan  dan    meningkatkan    partisipasi    pihak    swasta    dan    atau perorangan/kelompok  dengan  membuka  peluang  investasi  dan  penyertaan modal yang menguntungkan melalui penumbuhkembangan perusahaan pemula menjadi perusahaan lanjutan berbasis teknologi yang ukurannya sudah masuk ke skala perusahaan kelas menengah, dengan melalui penyertaan investas.

Sasaran yang ingin dicapai adalah:

Menaikkan kelas Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) menjadi Perusahaan Lanjutan Berbasis Teknologi (PLBT) dengan target   menjadi perusahaan kelas menengah yang berkelanjutan (sustainable), serta berkemampulabaan (profitable), berkembang (growth), serta meningkatkan lapangan pekerjaan di dalam negeri.

Luaran dari program ini adalah perusahaan Lanjutan berbasis teknologi yang berasal dari PPBT   berkelanjutan (Sustainable) , berkemampulabaan (Profitable), mampu bertumbuh kembang  (Growth),      mampu   bersaing  (Competitive)  serta   mampu   meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menggerakkan ekonomi nasional.

DEFINISI

Perusahaan Lanjutan Berbasis Teknologi adalah perusahaan yang telah pernah mendapat skema pendanaan sebagai Perusahaan Pemula berbasis Teknologi yang telah  selesai diinkubasi, telah mampu mencetak laba serta meraih omset penjualan yang selanjutnya akan melakukan peningkatan kapasitas produksi, peningkatan pemasaran, dan perluasan pasar dengan penambahan dana invetasi dan atau modal kerja dari investor perusahaan ataupun perorangan/kelompok.

Investor adalah pihak swasta atau perseorangan maupun berkelompok yang menempatkan investasinya berupa sumber daya seperti dana, fasilitas, atau sumber daya manusia, hingga pendampingan ahli ke dalam Perusahaan Lanjutan Berbasis Teknologi yang bersifat jangka panjang. Sebagai timbal balik, investor mendapatkan sebagian kepemilikan saham pada PLBT.

 

PENGERTIAN PROGRAM

Program Perusahaan Lanjutan berbasis Teknologi (PLBT) adalah program pendanaan yang diberikan oleh pemerintah kepada  PPBT  yang  telah  selesai  diinkubasi  dan  didorong untuk didanai oleh investor. Tujuannya adalah sebagai upaya meningkatkan kemampuan PPBT menjadi perusahaan kelas menengah

FOKUS PRIORITAS PENDANAAN

Perusahaan yang diprioritaskan untuk mendapatkan pendanaan adalah Perusahaan Pemula yang berasal dari program PPBT yang telah menyelesaikan masa inkubasinya dengan produk berbasis teknologi yang berbasis pada bidang fokus berikut

1. Pangan   

Bioteknologi modern untuk produksi benih dan bibit unggul tanaman, ternak, dan ikan

   2. Kesehatan

  •  Teknologi produksi sediaan obat (berbasis bahan baku alam) dan bahan baku obat dalam negeri untuk penguatan industri farmasi nasional
  •  Alat dan instrumentasi kesehatan produksi dalam negeri
  •  Pengobatan  presisi/akurat  berbasis  genom  dan  sel  punca  untuk  mengatasi masalah perubahan demografi

3. Transportasi

Infrastruktur  dan  sarana  transportasi  darat,  laut,  dan  udara  untuk  peningkatan kemampuan, keselamatan, kehandalan, dan daya saing

4. Energi

  • Bahan bakar bersih berbasis energi baru dan terbarukan rendah/tanpa karbon
  • Teknologi kelistrikan berbasis energi baru dan terbarukan rendah/ tanpa karbon
  •  Manajemen energi, teknologi efisiensi, konservasi, dan energi cerdas

5. Rekayasa Keteknikan

  • Teknologi penanganan, pengolahan, dan  pengemasan untuk produk pangan, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikana
  • Teknologi konstruksi bangunan untuk mitigasi, pencegahan dan kesiapsiagaan, tanggap darurat, dan budaya sadar bencana
  •  Teknologi informasi dan komunikasi serta kebijakan untuk mendukung industry 4.0
  •  Material maju untuk kesehatan
  •  Teknologi serat, tekstil, dan produk tekstil
  •  Teknologi mesin untuk industri

6. Pertahanan dan Keamanan

  • Teknologi pendukung daya gerak
  •  Teknologi pendukung daya gempur
  •  Teknologi pendukung pertahanan
  •  Sistem pemantauan radiasi untuk memonitoring unsur radioaktif

7. Kemaritiman

  • Teknologi penguatan infrastruktur dan konektivitas maritime
  •  Teknologi perlindungan dan pemanfaatan sumber daya maritime

8. Multidisiplin dan Lintas Sektoral

  • Teknologi  dan  manajemen  bencana  hidrometereorologi  dan  cuaca  ekstrim. vulkanik, tsunami, gempa bumi, dan bencana biologi, kimia, radioaktif, dan rawan pangan (pengembangan teknologi peringatan dini, mitigasi, dan pengurangan bencana, pencegahan dan kesiapsiagaan, tanggap darurat, regulasi dan budaya sadar bencana)
  •  Lingkungan, sumberdaya air, dan perubahan iklim
  •  Kecukupan gizi dan penanggulangan stunting
  •  Keanekaragaman hayati/biodiversitas